Terang Bulan Dingin

Mencatat kepingan-kepingan kenangan masa kecil #2

When I saw the break of day
I wished that I could fly away
Instead of kneeling in the sand
Catching tear-drops in my hand

My heart is drenched in wine
But you’ll be on my mind forever

“Don’t Know Why” – Norah Jones

Malam, jam sembilan. Ibuk sudah mengingatkanku supaya menyiapkan buku pelajaran yang besok harus dibawa ke sekolah. Sebuah rutinitas yang membosankan semasa SD.

“Cekno mene gak kedandapan,” ucapnya dalam bahasa Jawa Suroboyoan. Artinya, supaya besok tidak tergesa-gesa.

Selain menyiapkan buku dan alat tulis ke dalam tas, sebetulnya, yang lebih kusiapkan adalah nyali minta uang jajan ke Ibuk. Bukan uang jajan buat besok, melainkan malam itu juga.

Aku ngidam terang bulan. Kusampaikan kepadanya kalau aku bermaksud membeli seporsi terang bulan.

“Sopo sing pengen?” tanya Ibuk.

Pertanyaan itu pertanyaan pusaka. Ibuk sering memastikan, ketika aku meminta sesuatu, apakah itu keinginanku sendiri atau kedok dari sodara-sodaraku? Sebab, tidak jarang aku ‘diperalat’ sodara sendiri buat minta sesuatu ke Bapak-Ibuk. Menurut mereka, kalau aku yang minta, kemungkinan dikabulkan akan lebih besar. Aku tidak tahu mengapa.

Tapi kali ini berbeda. “Aku sing pengen dewe, Buk,” jawabku.

“Pira regane?”

“10 ewu rego’e.”

Tentu saja penjual terang bulan yang terpikir olehku saat itu cuma satu: Terang Bulan (terbul) Portal. Aku ingat betul. Di sana dengan uang 10 ribu aku dapat memboyong pulang terbul isian coklat dan kacang. Setiap ada kesempatan beli di sana, aku hampir tidak pernah absen menonton proses masaknya. Mulai dari adonan yang diaduk menggunakan gayung, lalu dituangkan ke loyang panas, sampai berubah jadi kue matang dengan kerak di pinggirannya — yang lebih sering dibuang. Saking sayangnya sama kerak, kadang aku membayangkan, apakah mungkin kalau aku minta penjualnya mengumpulkan semua kerak terbul dalam satu malam, lalu aku beli murah buat camilan selagi renyah? Tapi keinginan itu tidak pernah kusampaikan. Lagipula, terang bulan coklat kacang masih lebih menarik daripada keraknya.

“Tuku ambek sopo?” tanya Ibuk dengan siapa aku akan pergi.

“Dewe. Nang terang bulan portal,” jelasku.

“Wani ta?”

“Wani.”

Ibuk mulai merogoh isi tasnya, mencari dompet. Aku senang karena permintaanku dikabulkan, tanpa harus banyak ba-bi-bu-ita-itu dan ditunggangi kepentingan siapapun selain aku.

Sudah kubayangkan betul itu nikmatnya terang bulan hangat rasa coklat kacang. Betapa kenyal kue berpadu dengan gurih margarin, lumer manis coklat dan harum kacang. Komposisi itu bisa meredam hati yang kalut menjadi taman berbunga. Sudah kubayangkan juga bagaimana besok, ketika terang bulan sudah dingin dan aku akan…srettt! Ibuk menyodorkan selembar uang kertas.

Semula, yang kusangka ini semua akan berjalan mulus, eh ternyata tersandung juga sebelum berangkat. Mana cukup 5 ribu, Buk?!

“Mek 5 ewu? Yo kurang, Buk.”

Aku heran. Mintanya 10 ribu, tapi diberi setengahnya. Padahal 5 ribu jelas tidak mungkin dapat seporsi terbul coklat kacang.

“Yo mboh. Semono iku dicukup-cukupke pek,” timpalnya, melipat dompet.

Meskipun heran dengan keputusannya, uang lebih baik kuterima dan aku tetap berangkat. Aku bersungut-sungut dalam hati, “MANA CUKUP 5 RIBU HAH?!”

.

Terang bulan portal adalah terang bulan langgananku. Kusebut langganan bukan karena terang bulan ini paling enak sedunia, melainkan jaraknya paling dekat. Letaknya di perbatasan perumahan dengan jalan raya. Sekitar 10 menit jika ditempuh jalan kaki dari rumah.

Dari muka rumahku yang menghadap Selatan, langkah pertama adalah menyusuri jalan lurus ke arah Timur, ketemu portal pertama, belok ke Utara melewati beberapa rumah bertingkat yang kosong dan gelap. Lebih gelap lagi karena penerangan jalan di sana juga sedikit. Rasanya seperti menyusuri lorong gelap. Aku berjalan agak cepat.

Setelah melewatinya dan tiba di pertigaan terakhir, aku harus belok kanan, karena kalau nekat lurus bisa dipastikan bakal nyemplung got. 40 meter dari sana ada portal terakhir, batas terluar jalan perumahan Rungkut Kidul dengan Jalan Raya Medokan. Di situlah terang bulan portal berada.

Sekitar 10 meter sebelum tiba, sudah terlihat silau cahaya putih yang lebih terang dari lampu-lampu di sekitarnya. Aku kerap bertanya dalam hati, apakah nama terang bulan diambil karena lapaknya yang terang atau lapaknya dibikin amat terang karena jualannya terang bulan? Pertanyaan itu tidak pernah terjawab. Juga tidak pernah kutanyakan ke siapa-siapa. Yang jelas, memakan terang bulan tidak pernah membuatku teringat bulan.

.

Aku tiba. Tidak ada orang mengantri di sana.

“Pak, mau beli terang bulan.”

Bapak penjual yang semula duduk menonton TV di sebuah warung kopi dekat portal, beranjak dari bangkunya, hendak menyiapkan adonan dan memanasi loyang. Tapi aku tidak langsung memesan.

“Liat menunya dulu ya Pak.”

Aku berjalan ke depan lapak, menengok daftar menu yang dipajang di balik kaca.

Kuurutkan satu-satu dari menu teratas, mencari terbul coklat kacang…1 bukan, 2 bukan, 3 bukan, 4… ketemu! Terang bulan rasa coklat kacang harganya 10 ribu! Tapi uangku cuma 5 ribu! Aku getun sendiri dalam hati.

“Jadinya pesen apa?” tanya Bapak penjual.

Dengan berat hati tapi ngidam dan malu tapi nekat — sebuah komposisi desakan yang tak kumengerti — aku memberanikan diri bertanya, “Pak, 5 ribu bisa dapet terang bulan coklat kacang nggak?”

Selembar uang 5 ribu kusodorkan. Sambil mengaduk-aduk adonan, Bapak itu melirik uangku. Lalu mata kami bertemu. Melirik uangku lagi. Mata kami bertemu lagi. Ia berhenti mengaduk.

“Yo wes. Kene duik’e,” kata Bapak Terbul Portal mengiyakan permintaanku. Agak kecut nada bicaranya.

Kutaruh selembar 5 ribu rupiah di atas meja saji, lalu cepat-cepat mengambil langkah mundur darinya. Begitu tahu adonan dituang ke atas loyang panas lalu ditutup, aku baru beranjak ke depan lapak tak ingin melewatkan pertunjukan.

Dalam hati, aku lega.

.

Terang bulan sudah matang. Tutup panci diangkat. Terang bulan mengepul panas, mengababi kaca-kaca lapak. Kerak-kerak di pinggir loyang disingkirkan — terbuang dan terinjak.

Margarin sudah dioleskan rata pada sekujur kasur terbul panas. Kini tiba saatnya menabur meises coklat dan kacang, sebelum dilipat dan dipotong.

Dahiku mengernyit ketika menyadari ketebalannya berkurang, begitu juga meises coklat yang ditabur lebih sedikit. Kacangnya juga jarang-jarang. Bapak Terbul Portal tidak berbicara sedikitpun. Aku tidak berani bertanya, apalagi protes. Kulirik air mukanya masih kecut.

“Suwun, Pak!”

Setelah mengucap terima kasih, aku lenggang pulang dengan membawa sebungkus terang bulan coklat kacang.

5 ribu yang semula kupikir bakal kurang, ternyata ya memang kurang. Tapi kalau dicukup-cukupke, seperti kata Ibuk, ya cukup juga. Ajaib.

Malam kututup dengan menyantap sendirian terang bulan coklat kacang. Habis setengah, sisanya kusimpan dalam kulkas. Orang rumah kuwanti-wanti supaya jangan sak karepe dewe. Boleh ambil, tapi jangan dihabiskan, apalagi cuma disisakan sepotong. Terang bulan itu sengaja kudinginkan malam ini, supaya besok bisa kubawa ke sekolah untuk bekal makan jam istirahat.

***

Krrrriiiiiiiinnnnnngggggg!

Bel istirahat berbunyi. Krucil-krucil seragam putih-biru langit lari berhamburan keluar kelas.

Beberapa teman kelasku menenteng tepak makannya sendiri, beberapa tidak. Aku termasuk yang tidak. Sebagian temanku yang tidak membawa bekal langsung berlari menuju ke taman bermain di halaman depan. Hari itu, bermain dan berlari-larian, bagiku tidak begitu menjadi hasrat. Laparku lebih gawat.

Dari depan kelas kulihat ada 3 orang teman yang sedang duduk santai di salah satu pilar dekat kelas tetangga kami. Mereka menikmati bekalnya. Aku memutuskan duduk nimbrung bersama mereka. Tidak tahu mengapa.

Aku duduk di sebelah 2 teman yang kini kulupa namanya. Di hadapanku persis duduk seorang teman perempuan bernama… Amandea.

Mereka asyik ngobrol dan aku ikut menyimak (menyimak obrolannya sekaligus makanan mereka), hingga suatu ketika Amandea bertanya, “Arya, tepak makanmu mana?”

“Hari ini aku nggak bawa.”

“Kamu mau ini?” sambil menyodorkan isi tepaknya.

“Itu apa?”

“Terang bulan tapi sudah dingin soalnya dimasukin kulkas semalem.”

Di sinilah aku pertama kali melihat terang bulan saat hari sudah padang. Kuterima terang bulan dingin rasa coklat kacang pemberian Amandea. Kumakan dengan lahap. Mulai dari wajah, perut, dan hati, semuanya berseri-seri.

Sejak saat itu, setiap aku makan terang bulan (lebih-lebih yang sudah dingin karena baru keluar dari kulkas) yang aku ingat bukan bulan. Melainkan Amandea.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *