Di Mana Rumah Nematzadeh?

Mudah bagi orang dewasa meremehkan anak kecil hanya karena kekanakannya.

Tapi melalui filem Where’s the Friend’s House? (1987), Abbas Kiarostami menggambarkan betapa seorang anak kecil sekali pun punya kehendak, perasaan dan pikirannya sehingga dapat memutuskan sesuatu. Ini serangkaian hal yang sering kali dianggap orang dewasa belum becus dilakukan oleh anak.

Sebelum lebih masuk, aku sengaja menyebut “orang dewasa”, meski yang kumaksud lebih tepatnya adalah “orang yang lebih tua secara umur dan berkuasa dalam sistem sosial”. Sebab, kedewasaan struktural tak sama dengan kedewasaan secara emosional.

.

Sekolah pagi baru saja mulai. Nematzadeh (Ahmed Ahmedpour) sudah kena amuk guru karena tak membawa buku PR-nya. Nematzadeh bukannya tak mengerjakan PR, hanya saja Si Guru mewajibkan seluruh siswa menggunakan buku PR yang sama.

Nematzadeh sudah tiga kali mengerjakan PR tapi terserak. Si Guru merajuk: “The reason I say to use a notebook is so that you’ll be methodical and disciplined….First, it teaches you to be orderly about everything. Second, we can compare today’s homework with that of two months ago.”

Selesai ceramah yang membikin Nematzadeh keok dan menangis, Si Guru masih mengancam akan mendepaknya dari sekolah kalau besok hal itu terulang. Ahmad (Babak Ahmadpour) yang duduk di sebelah Nematzadeh menyaksikan itu semua.

Sepulang sekolah, ternyata Ahmad secara tidak sengaja membawa pulang buku PR Nematzadeh. Kiarostami memanfaatkan off-screen event untuk menggambarkan bagaimana buku PR Nematzadeh bisa berpindah tangan ke Ahmad. Ia merangsang penonton untuk membayangkannya sendiri.

Dan ini bayanganku (boleh dilewati): Ahmad secara tak sadar membawa buku PR Nematzadeh, karena Nematzadeh pun sepertinya bukan anak yang suka kerapihan, teledor atau bahkan mungkin bukan yang patuh! Nematzadeh adalah kebalikannya Ahmad. Baru saja Nematzadeh diamuk habis-habisan oleh gurunya, dia langsung lupa! Hahaha. Tebakanku, buku PR-nya tertumpuk di bawah buku PR Ahmad.

Mengetahui buku PR yang dipegangnya ada dua, Ahmad terdorong untuk mengembalikan buku PR temannya. Masalahnya, sebagaimana terang di judul filemnya: di mana rumah Nematzadeh?

Ahmad menuju ke Poshteh. (Sumber: streamondemandathome.com)

Yang Ahmad tahu hanya, dari Koker (kampungnya Ahmad) menuju ke Poshteh (kampungnya Nematzadeh) butuh waktu tempuh sekitar 40 menit jalan kaki. Sebetulnya, aku yang membikin perkiraan waktu itu dari ucapan Si Guru saat adegan menegur beberapa siswa yang terlambat masuk kelas karena rumahnya di Poshteh.

Where’s the Friend’s House? jadi punya cahayanya sendiri jika ditonton sekarang. Sebab, semasa itu belum populer internet, navigasi digital, dan ojol yang serba bikin praktis seperti sekarang. Kalau semua jadi semudah itu, mungkin Ahmad tidak akan bertualang sejauh itu, baik ke Poshteh maupun ke dalam dirinya sendiri?

Dalam petualangan Ahmad mencari rumah temannya, ia berkali-kali bertemu orang dewasa yang sama sekali tak peduli pada perasaannya. Jangankan peduli, lha wong mendengarkan dan menyimak lebih dulu saja susah.

Sikap tak mau tahu orang-orang dewasa ini bikin Ahmad tampak bimbang. Di satu sisi, ia dikepung oleh berbagai keharusan: harus mengerjakan PR-nya sendiri, harus membantu ibunya momong adik bayi dan harus mengurus dapur. Namun, benaknya tak bisa membayangkan Nematzadeh didepak dari sekolah. Ia jadi ikut kecipratan ancaman Si Guru ke Nematzadeh. Ahmad harus patuh, atau mengikuti kata hatinya?

Sampai di titik ini, mengapa penting menyaksikan kebimbangan Ahmad sebagai tokoh utama? Ia yang sedari awal digambarkan sebagai anak yang rapi, rajin mengerjakan PR, bisa diajak kerja domestik—yang artinya terbiasa bersinggungan dengan otoritas dan tanggung jawab—coba dikacaukan oleh Kiarostami melalui dilema.

Ahmad bisa saja bergeming dan melanjutkan sisa harinya seperti biasa. Tapi kenapa dia tidak memilih itu?

Tebakanku: kesetiaannya—ialah air kesetiakawanan yang tidak ditimba dari sumur-sumur loyalitas buta yang sarat strategi, kepatuhan, teori dan untung-rugi.

Apa artinya? Perjalanan Ahmad mencari rumah Nematzadeh memang tak mulus, apalagi menjanjikan keuntungan dan kenyamanan. Namun, rasanya tak adil juga jika petualangan Ahmad dinilai sebagai sebuah rangkaian tindakan logis dan strategis, sesak penjelasan, bak game RPG orang dewasa: ada misi utama, side quest, reward, false lead, jalan yang lurus, jalan sesat.

Bagiku, perjalanan Ahmad lebih menggambarkan bahwa jadi orang setia tak meloloskanmu dari konsekuensi dan tak menjamin kenyamanan-keamanan. Justru orang setia bisa kehilangan banyak hal—dalam konteks Ahmad: kena amuk ibunya karena mangkir dari tugas rumah tangga, tersesat berkali-kali, dicegat anjing galak di tengah jalan, kehilangan waktunya untuk mengerjakan PR, telat makan—tapi ia tidak kehilangan dirinya sendiri. Dan itu tak ternilai.

Dan yang lebih pokok, seandainya orang lain tak mafhum tindak tanduknya, maka itu pun tak apa, karena hanya Ahmad yang paling paham apa yang terpenting baginya saat itu: mencari rumah temannya.