A

Mari, berlindap di sini saja

  • Melanjutkan Perjalanan

    Diterbitkan

    Untuk mereka yang mengenang Arief Budiman

    Namanya sering kudengar
    Tapi selalu samar-samar
    Aku tak pernah begitu dekat,
    untuk mengenal lenteranya
    Yang lamat-lamat
    tercekat gigil kabut purba
    yang culas dan menyaru baru

    Paling dekat,
    aku hanya mertamu
    ke mahligainya di pinggir kali
    Tempat ia menghabiskan hari,
    yang tak pernah ia ketahui
    kapan habisnya

    Duduk-duduk
    di beranda persegi empat,
    ngobrol segenggam setumbuk
    pun kami tak sempat
    Ia sudah kebanyakan pikiran;
    daripada mendongeng
    sebuah pengulangan,
    ia memilih bersandar
    dan mendengarkan —
    meski harus tertatih-tatih.
    Ia tampak kesulitan,
    terganggu kejang-kejang.

    Beberapa kejang kemudian,
    istri dan perawatnya bilang:
    “Bapak harus banyak rehat.
    Dan kau harus pulang
    dengan kuah dingin,
    dan jangan pernah
    kau hangatkan lagi.”
    Penasaranku yang matahari saat itu,
    belakangan kusadari,
    ternyata adalah bintang mati
    yang baru bisa kunikmati
    cahayanya di hari ini.
    Atau ibarat ilmu pegunungan
    di dekat sini,
    saat itu akulah Merapi
    yang batuk freatik
    wayah dini hari

    Di gelanggang ajar yang besar
    Kisahnya adalah tentang geni dan sekar
    Setidaknya itu yang kudengar
    dari mereka yang karenanya,
    hidupnya bermekaran.
    Meski bagiku,
    buah pikirnya
    tak pernah begitu ku ilhami teliti
    Masuk telinga kanan,
    kabur telinga kiri.

    Dan hingga hari ini,
    kisahnya masih sering kudengar
    Kudengar orang ini arif
    Kudengar orang ini budiman
    Kudengar orang ini baru saja melanjutkan perjalanan

    Salatiga, 24 April 2020

  • Lupa Lupa Ingat

    Diterbitkan

    Orang kadang lupa bahwa mereka bisa melupakan sesuatu tanpa harus mengupayakannya. Orang sering lupa kalau mereka bisa lupa begitu saja. Justru orang yang berupaya melupakan, sebenarnya sedang mengingat-ingat, sejelas-jelasnya, lalu menitik kejadian mana saja yang mau dilupakan.

    Dan upaya untuk melupakan biasanya ditempuh dengan cara yang menyedihkan!

    2019

  • Klementinara

    Diterbitkan

    Hendaknya,
    kita menjadi sabar yang lautan
    dan maaf yang rimbun-hutan
    atas segala temu yang hilang
    dan abadinya perpisahan

    Ilmu ikhlas temunya sampai lelaku
    Tidak diawang tembus biru,
    atau perbal padu-padan sebagai tuju

    Layarkan!
    meski sendirian
    Dan meski ‘kan hancur kelelap
    atau sekadar mengambang
    pada serdadu laut yang gontai menggelang

    3 Mei 2019

  • Beda

    Diterbitkan

    Ini kenyataan. Orang yang tidak bodoh, tahu bahwa cinta memang tak perlu alasan — sejumput sekalipun. Kalau cinta sudah sesak alasan dan penjelasan, namanya berubah jadi barang dagangan — karena barang dagangan selalu punya alasan untuk diperjualbelikan.

    Padahal cinta bukan barang, apalagi untuk didagangkan. Ia tak bisa dibeli, dijual, diminta, ditawar, dan ditolak — bisanya cuman diberi dan diterima dengan keikhlasan, bukan paksaan.

    Mengapa cinta tak bisa ditolak? Jelas saja, kita dengan mudahnya bisa menolak pinangan orang lain, tapi tak pernah bisa menolak cintanya. Jelas ini dua hal yang berbeda, namun seringnya disama-samakan. Dengan kata lain, kita tidak bisa menghalang-halangi orang lain buat mencintai kita. Itu haknya. Nikmati saja.

  • Now I’m Free

    Diterbitkan

    I can go wherever I want to be
    I’ve paid the price
    Of suffering and all your costly lies

    I can smoke
    I can drink
    I can rome
    I can wink
    At whomever
    I want
    I am free

    Thought I was free,
    But it was just my mind
    Playing tricks with every tick of time
    How can I be free of your kind?

    Thought I was free,
    But I still see you in strangers
    Oh, should I fear
    Being free?

    I see your silky black-brown hair
    Thought it was you
    I took a step ahead from my lair
    But it was not you
    Thought I was free
    Free of these obsolete views

    I sipped my heavenly drink
    Heard your voice from the next door
    My mind did the math
    My heart was racing
    Toward virgins and death
    I was pretty sure the voice was yours
    But ‘twas another’s
    I still hear you in strangers
    Thought I was free
    Free from your mixtape
    Inside my head

    Until one day,
    When I’m sane enough
    To see the day as it is,
    One thing I know:
    Illusions often ask the beholder,
    “Tell me what will pleasure you.”
    You name it,
    And it will give you
    Such prettiness you can adore.
    You may be proud to call it
    A beauty all day long,
    But it’s just a mere beauty
    In disguise — it is ugly.

    True romance
    Feels better
    When the sky is clear
    And the hill is not foggy.
    Hence, every truth is plain to see.
    Illusions only give pleasure
    To the hearts
    That don’t know
    What love is.

    2019

    (rome — v. coined by me: to move freely in romance; to wander with affection.)

  • Kaget

    Diterbitkan

    Temanku pernah berkelakar dalam
    air matanya yang sudah lama menguap:
    “Kematian selalu datang mengagetkan,
    sebanyak apapun pertanda yang datang.”

    Ucapannya mengagetkan.
    Bukan karena tak ada hal lain
    yang mengagetkan
    Justru, hidup selalu mengagetkan.

    Sebagaimana juga,
    sore itu, sandal yang baru kupinang
    dari toko hilang diambil orang,
    beriring kabar dari seberang,
    Bapakku hilang diambil Tuhan.

    Sibangkaja, 22 Maret 2018

  • Penyakit yang Datang

    Diterbitkan

    I

    Penyakit yang datang
    janganlah buru-buru layang
    Beri aku cukup waktu
    untuk amatimu
    Merinci gejala
    menelisik titik belanga
    pada susu yang merah

    Ini waktunya jelajahi
    diri sendiri
    Menjeli lambatnya kehidupan
    di dalam pesakitan
    Nyala-redup yang bergantian sama kuat
    pada waktu yang melingkar dan kadang kusambat

    Penyakit yang datang
    tanpa atau sadar kuundang
    kau kusambut tanpa tendang
    Kelak kau kupukul
    setelah amatan terkumpul
    Dan Tabib yang datang
    kusambut tanpa urat tegang
    Tapi kupukul
    jika manjur katamu, ternyata asal dan tumpul

    II

    Penyakit yang datang
    mungkin ini terdengar malang
    jangan meregangku dengan tegang
    Apalagi saat sumbu-sumbu pada batin
    masih tersimpan, tegak memilin

    Aku hendak membakarnya supaya tak bersisa
    Membara karena sumbu, tau tanpa jembatan nyala
    Supaya sumbu tak bisa lagi dipilin
    hangus tak tersalin

    Kelak, reganglah aku dengan tenang
    seperti matahari setengah terbit setengah tenggelam
    Dan detik itu aku hanya bisa mengenang
    apa saja yang telah kubakar pada silam

    Sibangkaja, Februari 2018

  • Bugil

    Diterbitkan

    aku ingin kita telanjang
    baik di batin pun di ranjang
    aku ingin kita membugili diri sendiri
    agar tak menumpuk kebenaran yang ditutupi

    2017

  • Micin

    Diterbitkan

    Jangan remehkan aku
    Karena akulah haluan sedap bagimu
    Akulah penyatu
    Antara lidahnya dengan lidahmu

    Meniadakanku
    Masalah bagi sedapnya isi piringmu
    Karena kau masih makan dari tangan kroni-kroniku
    Masih mau?

    Akulah penyatu
    Antara lidahnya dengan lidahmu
    Menyisakan haus sepanjang waktu
    Hingga piring selanjutnya, kau tak lagi menyadari keberadaanku

    2016

  • Menetes Begitu Saja

    Diterbitkan

    bertanyalah seperti air stalaktit
    tak basa-basi, menetes begitu saja
    terjun ke kedalaman gua diri
    dan mengendapkan senyawa-senyawa mineral di relung

    serbuan sabar stalaktit itu
    mencipta temu kepada stalakmit
    demikianlah jawaban
    menjulang sejajar pertanyaannya
    sebagian lurus di pikiran,
    sebagian lainnya penuh misteri
    tanpa takut sejumput, sekira-kira atau sejangkung

    2016